Minggu, 08 Mei 2011

Festival Peunayong Meriah Dipadati Ribuan Pengunjung

1304703220festival peunayong.JPG (500×334)
Banda Aceh, (Analisa)
Festival Peunayong Banda Aceh yang menampilkan aneka etnik Kampoeng Tjina (julukan Peunayong tempo doeloe) melalui atraksi pawai malam hari dengan bernuansa oriental dihiasi cahaya lampion, terus dipadati ribuan warga baik siang maupun malam sejak digelar Jumat hingga Minggu (6-8/5).
Pembukaan Festival Peunayong oleh Walikota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin di Jalan Ahmad Yani Jumat (6/5) malam, juga dimeriahkan dengan atraksi barongsai.

Tak hanya ribuan pengunjung, umumnya warga Aceh dan etnis Tionghoa di Banda Aceh, para pejabat muspida Aceh, termasuk Gubernur Irwandi Yusuf dan muspida Banda Aceh tampak sangat menikmati tarian khas asal China yang dipersembahkan kelompok dari Medan itu. Usai atraksi Barongsai, dilanjutkan atraksi karate oleh anak-anak dan remaja etnis Tionghoa.
Pawai yang dimulai sekitar pukul 21.00 Wib tersebut adalah bagian dari rangkaian Festival Peunayong untuk memperingati ulang tahun ke-806 Kota Banda Aceh, sekaligus salah satu event dalam rangka Visit Banda Aceh Year tahun 2011.
Acara dibuka dengan penampilan dua kelompok penari di bawah balutan seragam naga, merah dan kuning. Disusul biksu, kera sakti, vampire dan berbagai peserta yang menggunakan pakaian adat etnik. Sayangnya, para penari Barongsai tak leluasa menampilkan tarian naga karena padatnya pengunjung yang datang.
Akibat pawai ini, panitia menutup jalan Ahmad Yani. Jalanan disulap menjadi arena pawai dan pameran. Sebuah panggung didirikan di atas badan jalan.
Sulaiman, warga Lampriet, Banda Aceh menyatakan, sengaja datang melihat Festival Peunayong, ingin melihat pertunjukan barongsai. "Jarang-jarang ada barongsai di Banda Aceh, sering kita lihat hanya di televisi," katanya.
Selain pawai budaya, dalam Festival Peunayong tersebut juga ditampilkan pentas musik dan keragaman budaya yang pernah ada di Aceh sejak abad ke-13.
Sebelumnya, Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin dalam sambutannya menyambut baik festival yang umumnya menampilkan kebudayaan China ini. Festival itu juga menandakan hubungan Aceh dan China sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam. "Sedangkan Peunayong adalah pusatnya," kata Mawardi.
Mengokohkan Persatuan
Menurutnya, Festival Peunayong untuk kembali mengangkat keragaman budaya masyarakat yang tinggal di kawasan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Tentu harapan tersebut sangat baik untuk semakin mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan di dalam keberagaman. Dalam konteks ini adalah hubungan etnis Tionghoa dan masyarakat Aceh itu sendiri, serta hubungan dengan etnis-etnis lain yang berdomisili di Banda Aceh.
"Festival tersebut dapat dijadikan salah satu momen yang baik untuk membangun kehidupan masyarakat yang multikultural. Multikulturalisme lebih menekankan relasi antar-kebudayaan dengan pengertian bahwa keberadaan suatu kebudayaan harus mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Dari sini lahir gagasan kesetaraan, toleransi, saling menghargai, dan sebagainya," sebutnya.
Kawasan Peunayong sejak abad ke-17 sudah menjadi titik tempat berkumpulnya para pedagang dari etnis Tionghoa di Banda Aceh. Krueng Aceh yang melewatinya juga telah mengambil peran yang amat penting untuk hal ini. Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) sungai ini telah menjadi jalur transportasi bagi kapal-kapal pedagang asing (Arab, Persia, Pegu, Gujarat, Jawa, Turki, Bengali, Tionghoa, Siam, Eropa dan lain-lain). Hubungan perdagangan yang erat telah membuat etnis Tionghoa pada waktu itu menetap di kawasan Peunayong (Bandar Peunayong). (mhd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar